Posts Tagged ‘exposure’

Apa itu Exposure dalam photography

Banyak orang masih bingung dengan istilah ini. Banyak yang salah konsep. Bahkan ada banyak pula yang tidak tahu sama sekali.

Exposure yang tepat sangat penting dalam mendapatkan mutu foto yang bagus. Banyak orang terjebak dalam filosofi “nanti bisa diperbaiki di komputer”. Seharusnya itu dijadikan sebagai senjata pemungkas, tatkala apa yang anda pikirkan atau konsepkan tidak bisa sepenuhnya diciptakan dengan kamera anda.

Memperbaiki foto di komputer sebetulnya bukanlah jawaban yang paling tepat. Dalam kenyataannya, setiap penyesuaian tones yang dilakukan di komputer, membuat foto lebih terang ataupun lebih gelap, menambah kontras, cropping, dst., akan mengurangi jumlah pixel penyusun foto. Jadi sebetulnya, olah digital itu hanya akan menurunkan mutu gambar karena akan membuang beberapa komponen data.

Jadi hal yang terbaik yang harus dilakukan adalah melakukannya di kamera, memotret dengan setingan yang benar sesuai dengan konsep yang diinginkan.

Metering

Meter di kamera di design agar bisa mengukur kekuatan cahaya di sekitar objek, dan memberikan informasi kombinasi setingan shutter speed dan aperture agar didapatkan exposure yang paling tepat.

Meter di kamera membaca semua data tonal scence objek, seperti seberapa gelap dan seberapa terang, dan secara rata-rata akan disajikan dalam sebuah saran exposure setting berupa garis dengan grafik yang berubah-ubah saat kamera diarahkan ke tempat terang atau gelap. Meter kamera mencoba menemukan nilai rata-rata, dengan pendekatan ke nilai 18% tone abu-abu. Dan memang terbukti, untuk kebanyakan situasi, meter kamera cukup bisa diandalkan.

Tipe-tipe metering

Ada 3 tipe metering:

1. Matrix atau evaluative metering
Tipe metering ini membagi scene ke dalam beberapa (atau banyak) segmen yang masing-masing oleh kamera akan dianalisa brightness-nya dan kemudian dibandingkan dengan sebuah database yang sudah diprogram sebelumnya – database ini berisi ribuan type photographic scences. Dan hebatnya, semua itu bisa dilakukan oleh kamera dalam waktu singkat, bahkan instant. Matrix/Evaluate metering modes, cukup bisa diandalkan, pengukurannya cukup akurat dan sangat berguna khususnya saat di situasi anda menggunakan mode auto-exposure, atau di saat situasi cahaya sering berubah-ubah.

2. Spot Metering
Spot meter membaca brightness dari sebuah titik di tengah-tengah frame. Dengan mode ini, memungkinkan anda untuk medapatkan informasi exposure yang tepat dari sebuah area yang kecil. Spot metering sangat tepat untuk anda yang sudah terbiasa dengan pilihan mode manual saat memotret, dan punya waktu untuk presisi pengukuran yang sangat akurat.

3. Incident Metering
Yang dimaksudkan dengan incident metering adalah sebuah alat tambahan yang fungsinya khusus mengukur cahaya di objek. handheld meter ini dapat memberikan pengukuran cahaya yang jauh lebih akurat daripada apa yang kebanyakan kamera bisa sajikan. Alat semacam ini juga bisa mengukur meter dari sinar-sinar ambient dari scene. Dan alat itu akan menginformasikan setting seperti apa yang perlu anda lakukan di kamera.
Ada beberapa kelemahan penggunaan handheld meter ini.
pertama, anda perlu mengeluarkan biaya extra untuk membeli alat ini.
kedua, anda tidak bisa mendekatkan alat ini ke objek2 tertentu. seperti pemain konser di panggung, atau ke pipi mentri yang sedang press conference. lol.

Tips: Work with Natural Light

Special Issue: Work with Natural Light for Interior Photography.

Ketika sampai di lokasi tujuan, sebaiknya jangan langsung memotret. Sebaiknya letakkan dulu tas kamera, tripod, dan semua perlengkapan fotografi anda. Dan mulailan melihat-lihat sekeliling (di dalam dan di luar) terlebih dahulu. Anda perlu merasakan situasinya sebelum anda mulai memegang photography equipment anda.

Beberapa orang bahkan pernah saya liat suka keliling dengan membentangkan ibu jari dan telunjuknya (membentuk sudut 90 derajat – bak pelukis perancis) untuk framing up any available shots. Mungkin tehnik ini terlihat agak norak, atau berlebihan. Tetapi saya pernah mencoba, dan itu sangat membantu dalam pembentukan visual mindset saya.

Tetaplah melihat-lihat, dan berjalan. Hampiri setiap sudut ruangan, lihat dari sudut yang agak rendah, agak tinggi, lebih dekat, perhatikan setiap detail yang ada, dan ingat itu semua. Temukan apa yang anda suka, dan apa yang anda tidak suka. Tugas anda adalah mengingat hal-hal yang sudah anda rasakan saat mulai memotret.

Ingat, Anda berada di sana TIDAK HANYA MEMOTRET, anda berada di sana juga untuk menyenangkan diri anda dan berbagi dengan yang lainya dengan temuan-temuan yang cantik dan menarik.

Setelah anda merasa cukup bersemangat dengan visual delights yang akan anda capture, mulailah putuskan dari mana anda akan memulainya. Tentukan di mana dan seberapa rendah atau tinggi angle yang akan dipakai untuk mendapatkan best feeling tentang scene itu, dan posisikanlah tripod anda. Cobalah beberapa tehnik seperti tilt, pan, zoom dan beberapa pilihan titik focus. Apakah hasilnya sudah sebaik seperti yang sedang anda rasakan dengan scene itu? Berilah perhatian pada furniture dan accessories lainnya. Kadang-kadang ada bagian-bagian tertentu yang perlu dihilangkan dari frame, atau ditambahkan (tentunya dengan memindah-mindahkan accessories itu, atau dengan merubah angle kamera ataupun zooming in-out.

Di interior photography, saya banyak melihat istilah ‘less is more’ juga sangat membantu dalam menciptakan foto-foto indah. Saya lebih banyak menghilangkan (meminimalisir) beberapa objek dari frame. Karena tujuannya adalah memciptakan pernyataan yang jelas dengan gambar, bukannya pameran banyak barang. Tetaplah melihat viewfinder anda dan buat beberapa penyesuaian di kamera anda, sampai keseluruhan komposisi tampak jelas, sederhana, dan tentunya bagus dalam pandangan anda.

Sekarang yang perlu diperhatikan adalah lighting. Ini sangat penting. Dan sangat dominan dalam penciptaan photo-photo bagus. Sesuai judul topik ini, di sini tidak akan saya ulas tentang penggunaan sumber lighting tambahan, termasuk flash body. Tentunya sangat diharapkan ruangan cukup mendapat sinar dari cahaya alami jendela.

Beberapa photographer lebih suka kalau lampu-lampu kamar dimatikan. semua uplight dan downlightnya, guna menghindari warna-warna kuning-orange di foto. ( Tetapi, dari pengalaman dan beberapa kali test, saya lebih suka perpaduan keduannya: natural light dan available room light. warna kuning-orange bisa di-desaturate di pc).

Ok, sesuai konsep awal, mari kita matikan lampu-lampu itu demi mendapatkan cahaya yang benar-benar murni cahaya alami yang masuk lewat jendela dan pintu. Cahaya alami yang masuk lewat jendela, walaupun dalam cuaca mendung, akan hampir selalu be adequate dan gorgeous.

Ada satu hal penting yang harus dipahami. Di hasil foto, jendela akan sering terlihat sangat sangat terang, sering diistilahkan sebagai over bright atau blown out. Ini terjadi karena memang cahaya di luar jauh lebih terang daripada cahaya di dalam ruangan. Bahkan kadang-kadang gorden putih sekalipun akan tampak hilang dalam brightness itu. Beberapa photographer menyukai efek ini, karena ada kekuatan dan kesanspiritual feeling dari cahaya luar tadi yang menyebar ke dalam ruangan dan memberi efek dramatis ke masing masing komponen interior.

Set ISO kamera ke angka 100 atau 200. Sekali lagi cek komposisi, fokuskan lensa, dan perhatikan light meter di viewfinder anda. Cobalah buat paling sedikit 5-6 seri foto dengan exposure yang berbeda-beda, karena dalam situasi cahaya kontras seperti ini, light meter anda bukan jaminan hasil bagus, karena light meter hanya memberi saran untuk normal situation.

Jadi berapakah exposure yang tepat? lihat hasil 6 seri foto test tadi. manakah dari ke enam test tadi yang hasilnya paling mendekati ideal menurut anda. Dalam hal ini, exposure dengan hasil bagus, biasanya lebih terang dari apa yang ditunjukkan oleh light meter. Untuk mengangkat brightness foto dengan memperpanjang shutter speed and ke 1/4, 1/2, 1 detik atau bahkan lebih. Selalu pelajari hasil photo di viewfinder anda guna mendapatkan hasil kombinasi setingan yang terbaik.

Old tips: Di situasi normal (bright day), exposure rata-rata biasanya di set ke f/8 1/4 detik. Sedangkan di situasi agak redup, exposure rata-rata di set ke f/5.6 1 detik. Jadi inget jaman sedang memotret dengan kamera film doeloe. hheheh..

Selamat Mencoba.