Jan

29

My experience with Nikon 70-300mm VR

70-300mm_vr.jpgintroduction:

nama lengkapnya AF-S VR Zoom-Nikkor 70-300mm f/4.5-5.6G IF-ED.

Nikon Vibration Reduction System
SLR Advanced Nikon engineering has given rise to a compact lightweight lens design that offers outstanding optical performance and excellent handling characteristics. The new Nikon Vibration Reduction (VRII) system enables users to take substantially sharper handheld pictures at slower shutter speeds. With the new VRII system, users can take sharp pictures at shutter speeds approximately 4 stops slower* than would otherwise be possible. For VR shooting, users can select two VR modes to match shooting conditions. Normal Mode primarily reduces camera shake in handheld shooting, detecting panning automatically. Active Mode can compensate for vibration when shooting from, for example, a moving vehicle.

Nikon 70-300mm f/4.5-5.6G IF-ED Nikkor lens
The AF-S VR Zoom-Nikkor 70-300mm f/4.5-5.6G IF-ED also offers proven Nikon features and technologies such as the SWM, which offers fast and precise autofocusing with super-quiet operation, and two ED glass elements that provide higher resolution and high-contrast images. Together with the AF-S DX 18-70mm f/3.5-4.5G IF-ED lens, it gives Nikon digital SLR owners a focal-length range from a wide 18mm to super telephoto 300mm (the picture angle is equivalent to 27mm to 450mm of 35mm format).

AF-S VR Zoom Nikkor lens - Features

  • 4.3x, 70-300mm telephoto zoom (picture angle, when used with Nikon DX format digital SLRs is equivalent to a 105-450mm on a 35mm format SLR)
  • The VRII minimizes camera shake by offering the equivalent of a shutter speed 4 stops faster
  • Two ED glass elements minimize chromatic aberration in the entire zoom range while ensuring high resolution and contrast. Outstanding Nikkor optical performance makes it suitable for photography with both Nikon digital and 35mm film SLR cameras
  • The SWM enables smooth switching between manual operation and the quiet autofocus
  • Two focus modes are available - M/A and M
  • The Internal Focus (IF) design provides a constant lens length and eliminates rotation of the front lens element, facilitating the use of circular polarizing filters.
  • The nine-blade rounded diaphragm opening makes out-of-focus elements appear more natural
  • A flower-shaped bayonet hood is provided
  • ø67 mm filter attachment size (Non-rotate)


70-300mm VR Zoom Nikkor lens - Specifications

  • Focal length : 70-300mm
  • Maximum aperture : f/4.5-5.6
  • Minimum aperture : f/32-40
  • Lens construction : 17 elements in 12 groups (two ED glass elements)
  • Picture angle : 34°20’ - 8°10’ (22°50’ - 5°20’ with Nikon DX format)
  • Minimum focus range : 1.5m (4.9 ft.) (through the entire zoom range)
  • Attachment size : 67mm
  • Dimensions : 80 x 143.5mm (3.1 x 5.6 in.)
  • Weight : 745g (26.3 oz.)
  • Included accessories : 67mm Snap-on front lens cap (LC-67), Rear lens cap (LF-1)
  • Bayonet hood (HB-36), Flexible lens pouch (CL-1022)
  • Optional accessories : 67mm screw-in filters

——————

selama kurang lebih 3 bulan menggunakan lensa super zoom ini, bisa saya uraikan beberapa kelebihan dan kekurangannya, sbb:

keunggulan:

  • image yang dihasilkan sangat tajam untuk rentang 70-200mm.
  • VRII yang sangat saya sukai dari lensa ini. sehingga tidak perlu lagi membawa-bawa tripod untuk shot jarak jauh
  • lensa ini juga sangat ringan
  • distorsi yang rendah
  • zooming yang halus
  • manual focus yang sangat mudah
  • autofocus yang sangat cepat
  • AF yang sangat akurat
  • foto panning menjadi lebih mudah.VR membuat kamera mudah membaca pergerakan objek, dan mengabaikan statik background.

kekurangannya:

  • lingkar diameter yang besar (juga fat zoom ring)
  • kesan plastiknya terlalu kental, sepintas nampak kurang bergengsi
  • kurang silent waktu zooming.
  • terlalu mahal.
  • kurang cocok untuk foto sport. vr sangat menghambat autofocus (harus VR mode off, kalau dipakai foto sport)
    tetapi pengalaman saya, justru untuk foto surfing, saya mendapat nilai extra memuaskan. untuk speed 1/500, buih ombak bisa menjadi sangan tak terduga.

secara keseluruhan, performance lensa ini jauh lebih hebat dari 70-300mm pendahulunya, yang pernah saya pinjam dari teman. walau harganya juga dasyat. 5 juta or something.

Jika uang tidak masalah bagi anda, banyak fotografer pro menyarankan untuk sekalian saja go to up-level lens Nikon 200-400mm VR.

bagi saya, untuk keperluan professional images, lensa ini kurang maksimal. tetapi kalau untuk keperluan travelling, lensa ini sangat saya favoritkan, dan juga didambakan banyak orang. super zoom, ringan, vr!

keputusannya, sangat tergantung pada keperluan zooming anda.

Posted on Tuesday, January 29th, 2008 by Imp. Winartho
Tags: , , , , , , ,

please feel free to write your comment here. keep smiling :)
RSS feed | Trackback URI

1 Comment »

to get your photo appear here, pls register at gravatar.com
Comment by Adi Arifin

2008-01-30 02:40:58

Harga emang sih keliatannya dahsyat, apalagi memang for whatever reasons lensa di rentang 70-300 pada umumnya relatif murah. Pendahulunya (yang non-S non-VR) kan bisa didapat dengan hanya mengeluarkan dana seperlimanya saja.

Cuman ya kayaknya VR emang banyak manfaatnya apalagi untuk lensa2 panjang. Teorinya kan makin panjang, amplifikasi vibrasi makin besar. Jadi kalo pake vibrator lebih terasssa gitu loh. Saya pake MF 300mm EF-ID, lensa jadul yang terkenal ringan, megang tanpa tripod lebih sering miss daripada suksesnya kayaknya.

Mantap tuh kalo dapet 200-400 f/4 VR. Apalagi kan di kantong udah ada 18-200. Gak perlu banyak-banyak bawa lensa dah.

 
Name (required)
E-mail (required - never shown publicly)
URI
Your Comment (smaller size | larger size)
You may use <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> in your comment.

Jul

15

Royal Cremation Ceremony, Ubud.

Setelah sekian lama menunggu, hari ini 15 Juli 2007, kita sekawanan fotografer (dig, foot, dd, sheko, aku dan rama) berangkat ke Ubud. sedianya mau berangkat jam 11.00 biar bisa meliput keseluruhan acara hari ini, tetapi rupanya bang roma ada sedikit kendala, sehingga kita dijemput hampir jam 1. Thanks free transport dan pickup servicenya, bang.

royal cremation ceremony ubud 2

sampai di ubud sekitar jam 14++, ternyata parkiran dekat lokasi sudah sangat penuh. terpaksa mobil balik lagi sampai posisi agak jauh. kita semua turun dan mulai hicking sepanjang pinggir kali (ape kaden adane) sekitar hampir satu kilo meter melewati gang gang sempit.

hampir dekat lokasi, kita malah terhalang sama mereka yang mau pulang habis pawai. duh… umplek2an banget. dengan segala tehnik memiringkan tubuh, sampai juga di lokasi. sayang harus menunggu lama, karena di tempat juga masih fase persiapan. saat-saat seperti ini kita gunakan untuk shot human interest. segala rupa bentuk manusia, berbagai mimik dan dekorasi.

menjelang magrib, semua persiapan pembakaran mayat telah selesai. dan tibalah saat-saat yang ditunggu-tunggu. byurr…. api berkobar di 2 lembu (artificial) besar dan naga banda. segala penat, panas, dan lapar seperti tidak terasakan, kita begitu menikmati acara budaya yang langka ini. secara ngaben yang ini skala besar dan dihadiri oleh ribuan orang dari berbagai belahan dunia.

royal cremation ceremony ubud

Posted on Tuesday, July 15th, 2008 by Imp. Winartho
Tags: , , , , , ,

May

12

Bromo Photo Hunting May 2008

direncanakan mendadak. 3 atau 4 hari sebelumnya. karena beberapa kali appointment hunting tidak kunjung terlaksana, akhirnya kita sepakat untuk pergi lebih jauh lagi, bromo! Sabtu pagi berangkat dari padang tawang, canggu, dengan mobil charteran.

istirahat makan siang di warung ayam betutu men tempeh, gilimanuk. awal perjalanan yang seru sekali. Harapan bisa juga hunting sunset di bromo, gak kesampaian. karena ternyata target waktu tempuh rada meleset banyak. akhirnya nemu sunset scene menarik juga di bantaran sungai sepanjang perjalanan menuju bromo dari jalur jember.

tiba di hotel di puncak jalan raya bromo, sekitar jam 9 malam waktu setempat, aku coba cari hotel tempat aku dulu menginap, hotel grand bromo. sayangnya hotelnya sekarang tutup. sayang sekali. hotel yang bagus di tempat yang bagus, harus tutup karena (mungkin) kurangnya tingkat okupansi kamar. akhirnya kita cari hotel seadanya. toh tema hunting kali ini adalah backpack adventure. sewa kamar Rp. 125,000 semalam dengan air hangat dan breakfast nasi goreng. lumayan murah…. kamar emang gak luxury, tapi juga gak jelek-jelek banget. pantes lah untuk harga segitu.

dig, 77, dieyoung meneruskan begadang nggak tahu sampai jam berapa. sementara aku, adi, wisna dan pak sopir tidur lebih awal, demi melepas lelah agar ada cukup power untuk naik-turun gunung besok paginya.

jam 3 pagi, morning call… mata masih berat… tapi karena niat udah bulet… bangun juga. hal yang sangat jarang terjadi. biasa bangun jam 9 kini harus bangun jam 3. tapi tidak jadi masalah saat itu. Cukup cuci muka saja, 2 toyota land cruiser 4WD sudah menunggu di loby hotel. setelah semua siap dan tidak ada peralatan motret yang tertinggal, kita pun berangkat. jalanan masih gelap. kita tidak bisa melihat apa-apa sepanjang perjalanan menuju penanjakan. hanya beberapa meter jarak lampu mobil saja. saat pulangnya, kita baru menyadari kalau tadi pagi kita melintas di dinding bukit terjal dengan jurang yang curam. perjalanan kali ini tidak se’excite’ kedatanganku dulu pertama kali di tempat ini. gak tahu dengan teman-teman yang lainnya. pasti seru sekali bagi mereka.

Jalan menuju bukit penajakan dapat dilalui dengan sangat mudah oleh mobil 4WD, akhirnya jam 4.30 kita sudah di puncak. ngopi-ngopi dulu… jam 5 telunjuk sudah siap di tombol shutter button. dengan kamera mengarah ke tempat munculnya matahari. Sempat kecewa juga, ternyata pengunjung kali ini bejibun banget. nyaris tidak ada tempat untuk menjulurkan lensa kamera. sepanjang sisi-sisi terbaik sudah ditempati orang. bergaya orang wartawan… akhirnya aku dapat tempat juga di sisi yang lumayan bagus. tapi ya tetep aja gak nyaman untuk main long exposure. terlalu rentan kena senggol-senggol dari pengunjung yang berjubel.

puas motret terbitnya matahari dan lingkungan di sekitar gunung bromo dari penanjakan, kita turun menuju lokasi lautan pasir di lereng gunung bromo. beberapa kali sopirnya aku suruh berhenti, guna mendapatkan beberapa shot yang unit dan berbeda dengan “foto di bromo” orang kebanyakan.

dekat pura di lereng gunung bromo, 4WD parkir, kita teruskan dengan menunggang kuda. beberapa shot juga sempat aku buat langsung dari atas punggung kuda yang berjalan. untungnya lensaku lensa VR, jadi dengan menset mode VR ke aktif, aku dapatkan lumanyan banyak steady shot dari moving shaking horseback.

… koq kayaknya ceritanya lebih seru kalau sambil menyimak foto-fotonya di flickr ya. bookmark this: http://flickr.com/photos/impworks

Posted on Monday, May 12th, 2008 by Imp. Winartho
Tags: , , , , ,

May

09

We are in Bromo this Sunday Morning

The most popular and well known of East Java’s tourist attractions is undoubtedly Mt Bromo. The pre-dawn departure and trek across the mountain’s famous ’sand sea’, to watch the sunrise at the crater rim, has become something of a ritual, enacted daily by people of every nationality.

Bromo is actually just one crater in the vast, 800 km2 Tengger massif, which forms the largest of East Java’s five main volcanic ranges. Although by no means the highest mountain in the region (2392m), it has gained its reputation partly because of its unique location and partly through the reverence shown to it by the local inhabitants. A legend connected with Mt Bromo tells of the origin of the Tenggerese people. According to the story, it was during the closing years of the 15th century, when the East Javanese empire of Majapahit was in decline, that a princess of the kingdom, named Roro Anteng, and her husband Joko Seger, retreated to the Bromo region and established a separate principality, which they named Tengger, a combination of the last syllables of each of their names. The region, it is said, de veloped and prospered, yet no descendants were born to the ruling couple.

Have your nice weekend

Posted on Friday, May 9th, 2008 by Imp. Winartho

Mar

05

hunting Upacara Melasti 4/3/08

melasti day

maret tanggal 4 bulan 3 tahun 2008 adalah hari besar bagi pemeluk agama hindu di bali. Melasti. atau sering juga disebut sebagai melis.

melasti, yaitu upacara menghanyutkan segala leteh (hal yang kotor-kotor) ke laut, serta menyucikan pretima. Upacara ini dilakukan di laut, karena laut dianggap sebagai sumber amerta.

sejak pagi di jalan depan rumah sudah berderet merambat cempana dan mobil-motor para penyungsung. gamelan bertalu.

pengen segera berada di pantai juga untuk membuat beberapa shot tentang melasti ini. tetapi sejak pagi cuaca tidak bersahabat bagi para fotografer. yang ikut melis sih bilangnya: “ini cuaca yang terbaik. tidak panas”. apalagi ibu-ibu dan gadis remaja putri sangat menyenangi cuaca gulem putih hitam tetapi tidak hujan, karena mereka tidak perlu khawatir make-up nya bakalan luntur.

tunggu punya tunggu… eh siangnya malah pakai gerimis segala. i am so sad.

akhirnya sore-sore ada juga telepon dari teman ngajakin hunting ke pantai. kupikir, ada yang ngajakin nekat nih. padahal cuaca masih gerimis kecil gitu deh…. ya udah, karena rame-rame, ya go wae. kanggoang, canggu destination terdekat. jadi inget jadul beberapa tahun lalu, aku selalu hunting melasti sendirian. jadi kayak toris sendirian nenteng kamera.

credit: rama, 77, dig, sheko, wibh. adi arifin absen.

Posted on Wednesday, March 5th, 2008 by Imp. Winartho
Tags: , , ,

Mar

03

reportase hunting billiard & bowling photo minggu 2/3/08

minggu siang 2/3/08, pada jam yang telah disepakati, ternyata cuaca tidak terlalu bersahabat. baru mau berangkat ke kuta paradiso, hujan gerimis mulai mengiringi perjalanan. tanpa pikir panjang, banting setang nangkring di ramayana bali mall.

makan siang ala kadarnya, terus maen billiard sambil nunggu temen-temen lainnya. beberapa shot menarik oleh teman-teman yang hadir di sana.satu jam billiard, dilanjutkan dengan bowling session.

2½ jam maen, tampaknya dig masiy belum puas. untungnya di lapangan puputan denpasar tiap hari minggu sore selalu ada pentas gembira anak-anak TK se-kota denpasar. jadilah kita lanjut perburuan ke foto panggung anak-anak.

other shot dapat dilihat dilihat di flickr account mereka.

billiard

 

ciaattt...

 

billiard

 

 

 

bowling

 

billiard

 

billiard

 

casting

 

Posted on Monday, March 3rd, 2008 by Imp. Winartho
Tags: , , ,

About Me

"We create image. Not just capture it!". This always inspires me. Everyone may have the the best camera equipments, but only the full talents artist can create the "state of art" images. Photography is a very serious artwork, our full effort needed. Now, I work commercially on architecture and wedding photography; While fine arts, human interest, foliages, still life and landscape photography done as a hobby. I love photography.

Services

We are committed to offering the following services to our customers:

  1. Breathtaking Wedding Photography
  2. Saleable Architecture (interior & exterior) Photoraphy
  3. Flexible Hours for your convenience
  4. Fast turnaround for Printing and Framing

Recent Blog Posts

Oct

08

Apa itu Exposure dalam photography

Banyak orang masih bingung dengan istilah ini. Banyak yang salah konsep. Bahkan ada banyak pula yang tidak tahu sama sekali.

Exposure yang tepat

Aug

30

Nikkor AF-S 105mm f/2.8G IF-ED VR - Lens Review

This lens is one of my dreaming gadgets. When it come, i just falling in love with it since my first test!
The DoF (depth of field), bokeh, fast