Archive for May, 2008

Bromo Photo Hunting May 2008

direncanakan mendadak. 3 atau 4 hari sebelumnya. karena beberapa kali appointment hunting tidak kunjung terlaksana, akhirnya kita sepakat untuk pergi lebih jauh lagi, bromo! Sabtu pagi berangkat dari padang tawang, canggu, dengan mobil charteran.

istirahat makan siang di warung ayam betutu men tempeh, gilimanuk. awal perjalanan yang seru sekali. Harapan bisa juga hunting sunset di bromo, gak kesampaian. karena ternyata target waktu tempuh rada meleset banyak. akhirnya nemu sunset scene menarik juga di bantaran sungai sepanjang perjalanan menuju bromo dari jalur jember.

tiba di hotel di puncak jalan raya bromo, sekitar jam 9 malam waktu setempat, aku coba cari hotel tempat aku dulu menginap, hotel grand bromo. sayangnya hotelnya sekarang tutup. sayang sekali. hotel yang bagus di tempat yang bagus, harus tutup karena (mungkin) kurangnya tingkat okupansi kamar. akhirnya kita cari hotel seadanya. toh tema hunting kali ini adalah backpack adventure. sewa kamar Rp. 125,000 semalam dengan air hangat dan breakfast nasi goreng. lumayan murah…. kamar emang gak luxury, tapi juga gak jelek-jelek banget. pantes lah untuk harga segitu.

dig, 77, dieyoung meneruskan begadang nggak tahu sampai jam berapa. sementara aku, adi, wisna dan pak sopir tidur lebih awal, demi melepas lelah agar ada cukup power untuk naik-turun gunung besok paginya.

jam 3 pagi, morning call… mata masih berat… tapi karena niat udah bulet… bangun juga. hal yang sangat jarang terjadi. biasa bangun jam 9 kini harus bangun jam 3. tapi tidak jadi masalah saat itu. Cukup cuci muka saja, 2 toyota land cruiser 4WD sudah menunggu di loby hotel. setelah semua siap dan tidak ada peralatan motret yang tertinggal, kita pun berangkat. jalanan masih gelap. kita tidak bisa melihat apa-apa sepanjang perjalanan menuju penanjakan. hanya beberapa meter jarak lampu mobil saja. saat pulangnya, kita baru menyadari kalau tadi pagi kita melintas di dinding bukit terjal dengan jurang yang curam. perjalanan kali ini tidak se’excite’ kedatanganku dulu pertama kali di tempat ini. gak tahu dengan teman-teman yang lainnya. pasti seru sekali bagi mereka.

Jalan menuju bukit penajakan dapat dilalui dengan sangat mudah oleh mobil 4WD, akhirnya jam 4.30 kita sudah di puncak. ngopi-ngopi dulu… jam 5 telunjuk sudah siap di tombol shutter button. dengan kamera mengarah ke tempat munculnya matahari. Sempat kecewa juga, ternyata pengunjung kali ini bejibun banget. nyaris tidak ada tempat untuk menjulurkan lensa kamera. sepanjang sisi-sisi terbaik sudah ditempati orang. bergaya orang wartawan… akhirnya aku dapat tempat juga di sisi yang lumayan bagus. tapi ya tetep aja gak nyaman untuk main long exposure. terlalu rentan kena senggol-senggol dari pengunjung yang berjubel.

puas motret terbitnya matahari dan lingkungan di sekitar gunung bromo dari penanjakan, kita turun menuju lokasi lautan pasir di lereng gunung bromo. beberapa kali sopirnya aku suruh berhenti, guna mendapatkan beberapa shot yang unit dan berbeda dengan “foto di bromo” orang kebanyakan.

dekat pura di lereng gunung bromo, 4WD parkir, kita teruskan dengan menunggang kuda. beberapa shot juga sempat aku buat langsung dari atas punggung kuda yang berjalan. untungnya lensaku lensa VR, jadi dengan menset mode VR ke aktif, aku dapatkan lumanyan banyak steady shot dari moving shaking horseback.

… koq kayaknya ceritanya lebih seru kalau sambil menyimak foto-fotonya di flickr ya. bookmark this: http://flickr.com/photos/impworks

We are in Bromo this Sunday Morning

The most popular and well known of East Java’s tourist attractions is undoubtedly Mt Bromo. The pre-dawn departure and trek across the mountain’s famous ’sand sea’, to watch the sunrise at the crater rim, has become something of a ritual, enacted daily by people of every nationality.

Bromo is actually just one crater in the vast, 800 km2 Tengger massif, which forms the largest of East Java’s five main volcanic ranges. Although by no means the highest mountain in the region (2392m), it has gained its reputation partly because of its unique location and partly through the reverence shown to it by the local inhabitants. A legend connected with Mt Bromo tells of the origin of the Tenggerese people. According to the story, it was during the closing years of the 15th century, when the East Javanese empire of Majapahit was in decline, that a princess of the kingdom, named Roro Anteng, and her husband Joko Seger, retreated to the Bromo region and established a separate principality, which they named Tengger, a combination of the last syllables of each of their names. The region, it is said, de veloped and prospered, yet no descendants were born to the ruling couple.

Have your nice weekend

Choosing Brand

Eric Roth, an interior professional photographer, one of my invisible mentor, said in his interior photography book, that photographers are born with their most important pieces of equipment, their eyes and brains. The most advanced camera will never make a great picture without visual thought and artistic guidance.

Conversely, a relatively inexpensive camera can produce world-class results. Whether you are a seasoned professional or a novice who is never shot any other subject, before, you goal as a photographer is to achieve the best results for the most reasonable investment. Your choices are broadened these days with the technical explosion known as digital photography.

Whatever equipment you decide to use, your success will also depend on two assets: money can’t buy your creative idea and your business sense.